Jumat, 29 Januari 2016

SEJARAH SINGKAT PERJUANGAN KH. ILYAS RUHIAT DALAM MEMBINA POSPES CIPASUNG

Tidak ada komentar:
Sejarah Singkat Perjuangan Alm. KH. Ruhiat dalam Membina Pondok Pesantern Cipasung

Alm. KH. Ruhiat mendirikan dan memimpin pondok Pesantren ini sejak didirikannya, yaitu akhir tahun 1931, sampai wafatnya tanggal 28 November 1977 bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397 H. Dalam kurun waktu 46 tahun itu tidaklah sedikit suka dan duka yang menyertai beliau, terutama pada masa pendudukan Belanda dan Jepang. Hal ini dapat dibuktikan pada derap lajunya Pondok Pesantren CIpasung pada masa itu dan masa-masa setelah kemerdekaan negeri ini.

1. Pondok Pesantren Cipasung Pada Masa Penjajahan Belanda

Pondok Pesantren yang didirikan pada akhir tahun 1931, itu sudah tentu keadaan Negara yang masih dalam genggaman Kolonial, sehingga tidak mengherankan apabila pada saat itu banyak sekali halangan dan rintangan menghadang, baik dari masyarakat sendiri yang mayoritas belum mengenal ajaran agama dan sedikitnya pengetahuan juga dari pihak Kolonial yang menyebabkan Alm. KH. Ruhiat harus keluar masuk penjara. Walaupun keadaan demikian beliau dengan penuh kesabaran dan ketawakalan kepada Allah subhanahu wata’ala, tidak henti-hentinya membina Pesantren ini dengan ikhlas, memberikan pendidikan dan pengajaran kepada para santri tanpa mengenal lelah siang dan malam. Awalnya santri yang menetap di Pondok Pesantren ini berjumlah kurang lebih 40 orang yang sebagian besar adalah yang ikut dari Pesantren Cilenga, tempat beliau mondok. Di samping itu banyak pula para santri yang pada malam hari mengaji dan siangnya kembali ke rumahnya. Dan mereka ini berasal dari sekitar komplek Cipasung. Sebagai pembinaan agama terhadap anak-anak usia muda, pada tahun 1935 didirikan sekolah agama (madrasah diniyah). Sekolah inilah yang pertama sekali didirikan di Pondok Pesantren Cipasung. Mengingat telah banyaknya santri yang telah dewasa, maka untuk pengkaderan Mubaligh Islam pada tahun 1937 didirikanlah Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin (KKM), sebagai suatu wadah latihan berpidato dan musyawarah yang diadakan setiap malam Kamis. Ketahanan aqidah dan jiwa patriotisme beliau dari pesantren mengundang kecurigaan Belanda sehingga beranggapan pesantren dapat mengancam kedudukan mereka. Terbukti dengan banyaknya ulama dan da’I yang ditangkap dan dipenjarakan. Hal ini juga dialami Alm. KH. Ruhiat yang pada tahun 1941 beserta Alm. KH. Zainal Mustofa dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari. Selama itu pengajian di wakilkan oleh KH. Saefulmillah dan Alm. Ajengan Abdul Jabbar. Selang beberapa bulan setelah bebas, tepatnya pada tanggal 6 Maret 1942, beliau bersama berpuluh kiai lainya di tangkap lagi dan dipenjarakan di Ciamis. Namun berkat pertolongan Allah pada tanggal 9 Maret 1942 Belanda dipukul mundur oleh Jepang, maka beliau bersama kiai lainnya dibebaskan setelah menjalani hukuman penjara selama 3 hari.

2. Pondok Pesantren Cipasung Pada Masa Penjajahan Jepang

Pada masa ini, pendidikan di Pondok Pesantren Cipasung dapat dikatakan sedikit lebih maju yaitu dengan adanya keikutsertaan santri puteri dalam mengaji kitab besar bersama santri putera dimana sebelumnya hanya dapat mencapai ke kitab-kitab tingkat menengah seperti al-Fiyyah. Angkatan pertama ini pelopornya adalah Alm. Hj. Sua, yang berasal dari Cilampung Padakembang Leuwisari. Wafat Tahun1997 dan meninggalkan anak diantaranya Hj. Dra. Djuju Zubaedah. Dengan adanya santri puteri yang sudah dewasa, untuk mengkader mubalighoh maka pada tahun 1943 didirikan Kursus kader Mubalighoh sebagai wahan latihan berpidato khusus bagi santri puteri. Tidak sedikit gangguan dan rintangan yang menerpa beliau dalam tugasa agama dan negara ini. Peristiwa yang menjadi bukti kebenarannya ialah ketika terjadi pemberontakan Sukamanah pada tahun 1944, yang dipimpin oleh Alm. KH. Zainal Mustofa, Alm. KH. Ruhiat serta kiai-kiai lainnya, pada peristiwa tersebut ditangkap dan dipenjara di Tasikmalaya selama 2 bulan. Pengajian pada waktu itu diwakili oleh Alm. H. baruh dan KH. SAefulmillah.

3. Pondok Pesantren Setelah Proklamasi Kemerdekaan

Dengan diproklamasikannya Kemerdekaan RI sejak tanggal 17 Agustus 1945 berarti tidak ada satu egarapun yang menguasai negeri ini. Sejak itu Bangsa Indonesia mulai membangun egaranya dalam bidangnya masing-masing demi untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang telah dicapai. Demikian pula halnya Alm. KH. Ruhiat yang terjun di dunia Pesantren, dengan diproklamasikannya kemerdekaan, beliau mengembangkan pesantren yang diasuhnya baik dalam pendidikan agama maupun dalam pendidikan umum, hal ini dibuktikan dengan didirikannya lembaga sekolah formal di Pesantren Cipasung setelah kemerdekaan dicapai bangsa ini. Meskipun Kolonial telah hengkang dari bumi pertiwi, namun situasi keamanan masih belumlah stabil terutama dengan datangnya kembali Belanda dengan agresi militernya yang ke II. Keadaan ini berpengaruh pula terhadap penyelenggaraan pendidikan Pondok pesantren. Peristiwa yang mengerikan yang menimpa Alm. KH. Ruhiat pada tahun 1949 waktu beliau sedang melaksanakan shalat Ashar bersama tiga orang santrinya, Belanda berusaha membunuhnya dengan melepaskan tembakan ke arahnya, namun berkat pertolongan dan perlindungan Allah SWT, usaha ini gagal. Dan peluru bersarang pada tiga orang santrinya, yaitu saudara Abdur Rozak yang berasal dari Tawang Banteng, saudara Ma’mun berasal dari Rancapaku keduanya gugur sebagai syuhada dan seorang lainya yaitu saudara Aen mendapat luka berat di kepalanya. Disamping itu adapula santri, yang ketika itu berada di asrama, terkena tembakan, yaitu saudar Abdul ‘Alim, beliau gugur sebagai syuhada, dan saudara Zaenal Muttaqien yang tertembak punggungmya. Sedangkan Alm. KH. Ruhiat ditangkap dan dipenjarakan di Tasikmalaya selama 9 bulan. Beliau dibebaskan kembali pada tanggal 27 Desember 1949. Sementara itu pengajian dipegang oleh KH Ilyas Ruhia.t. Walau beraneka cobaan dan ceriat pahit mengiringinya, beliau tetap sabar dan tawakkal kepada Allah SWT dalam perjuangannya, sehingga pesantrenpun tidak hanyut oleh zaman apalagi karam diterpa gelombang. Malahan ini menjadi cambuk untuk pertumbuhan dan perkembangan Pondok pesantren Cipasung ini. Adapun lembaga pendidikan yang didirikan di Pesantren Cipasung setelah kemerdekaan yaitu pada tahun 1949 didirikan Sekolah Pendidikan Islam (SPI). Pada sekolah ini di samping pendidikan agama diberikan pula pengetahuan umum, lima tahun kemudian, yaitu tahun 1953 sekolah ini berubah nama menjadi Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) yang mendapat status DIAKUI tahun 1985 denagn nomor 802/102/Kep/i/1985 dan pada tahun 1994 statusnya menjaid DISAMAKAN. Pada akhir tahun 1953 didirikan pula Sekolah Rendah Islam (SRI) yang kemudian berubah menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB), dan sekarang menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI). Sebagai kelanjutan MI, SMPI, pada_ tahun 1952 didirikan Sekolah Menegah Atas Islam (SMAI). Cita-cita beliau untuk mengembangkan Pondok pesantren tidak berhenti sampai disitu saja, akan tetapi beliau mampu pula mendirikan perguruan tinggi Silam yaitu 5 hari sebelum meletusnya pemberontakan G 30 S PKI tepatnya pada tanggal 25 September 1965 dengan Fakultas Tarbiyah yang pertama dibuka, dimana pada tahun 1969 mendapat status DIAKUI dengan Surat Keputusan Menteri Agama No.07 tahun 1969. sekarang statusnya meningkat menjadi TERAKREDITASI. Pada tahun 1969 didirikan pula Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian pada tahun 1978 berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Pada tahun 1970 didirikan pula Fakultas Ushuludin filial Cipasung, namun dengan adanya pemusatan ke induknya maka Fakultas ini hanya berjalan dalam dua tahun saja. Dan pada tahun 1992 didirikan pula Madrasah Tsanawiyyah Cipasung (MTs). Semua lembaga-lembaga pendidikan tersebut berada di bawah koordinasi suatu Yayasan Pesantren Cipasung dengan Akta Notaris Yayasan No. 11 tahun 1967. Alm. KH. Ruhiat tidak hanya aktif di dunia pesantren saja, namun beliau aktif pula dalam suatu organisasi Islam yaitu Jam’iyyah Nahdlatul ulama. Jabatan yang pernah beliau duduki ialah Ketua Syuriah PCNU tasikmalaya, Anggota Syuriah PWNU Jawa Barat, dan A’wan PBNU. Dengan tersedianya berbagai pendidikan di Pondok Pesantren, sejak MI sampai Perguruan Tinggi mnaka kian hari bertambah pula santri yang berdatangan dari berbagai pelosok persada tanah air khususnya daerah Jawa Baratd an DKI Jakarta. Hal ini membuktikan bahwa Pondok Pesantren Cipasung dituntu dan diperlukan keberadaannya yang harus dipertahankan kelestariannya, terutama dalam mencetak kader Ulama Intelek dan Intelek Ulama. Di tengah-tengah berbagai kesibukan dari aneka ragam kegiatan disaat umat sangat memerlukan bimbingannya, apa daya hendak dikata tulisan takdir ilahi berlaku atas diri beliau, tepatnya pada hari Senin jam 13.00 tanggal 17 Dzulhijjah 1397 H bertepatan dengan tanggal 28 November 1977 beliau berpulang ke rahmatullah di bandung setelah mendapat perawatan dokter selama 8 hari. Beliau meninggalkan 2 orang isteri dan 19 anak (9 putera dan 10 puteri) sebagai penerus estafet perjuangan beliau, maka puteranya yang bernama KH. Ilyas Ruhiat dikukuhkan sebagai pemegang tampuk pimpinan Pondok pesantren Cipasung.
Tonton Juga Videonya :


Sumber : http://alfikry.blogspot.co.id/2008/05/sejarah-singkat-pontren-cipasung.html

Minggu, 05 Juli 2015

JADILAH WIRAUSAHAWAN, JANGAN JADI KARYAWAN ( Kisah Inspiratif )

2 komentar:



Ditulis Oleh : Zulfatul Fu'adiyah
Mahasiswi Institut Agama Islam Cipasung ( IAIC )
Santri Asrama Esa Lama PP. Cipasung



Abdul Khoiruma Diantara Ribuan Ayam Ternak Hasil Usahanya

Dalam tulisan ini, Penulis sekedar membagi pengalaman yang penulis dapatkan dari kawan se-kampusnya.Sebut saja dia Abdul Khoiruma, Seorang pemuda yang terlahir di desa Kubang Eceng,  Tasikmalaya pada 14 Agustus 1992 silam. ia merupakan mahasiswa Institut Agama Islam Cipasung, semester dua Fakultas Syari'ah, Jurusan EkonomiSyari'ah.

Tunggu dulu!!! Di balik itu semua, ternyata pemuda asal Tasik ini mempunyai kisah perjalanan hidup yang menarik, sebelum ia akhirnya menjadi seorang pengusaha muda.
Pada mulanya setelah ia dinyatakan lulus dari SMK yayasan Ponpes Cintawana 2011. Ia mengikuti pelatihan servis handphone selama 3 bulan di Jakarta. Kemudian ia disalurkan untuk bekerja di PT. AZ Surya Lestari Tanggerang. Ia didapuk menjadi operator produksi Solar Cell. Lama bekerja di sana hanya satu bulan saja, dengan total upah 1.200.000 Rupiah.
Setelah keluar dari perusahan tersebut, Abdul tinggal di Jakarta bersama pamannya. Ia mencari pekerjaan kesana kemari, ia sempat menganggur selama 3 bulan. Pada akhirnya ia pun diterima di PT. Kawasaki Motor Indonesia setelah sebelumnya pernah melamar pekerjaan ke PT. Astra  Honda, PT. Samsung dan lain-lain.
Ia bekerja di PT. Kawasaki Motor Indonesia selama 2 tahun. Terhitung dari 2012-2014 Sebagai seorang Operator Produksi Impor-Ekspor.
Selama bekerja di perusahaan milik orang Jepang itu, ia digaji 3 juta hingga 7 juta setiap bulannya. Namun, ia hanya bertahan hingga 2 tahun saja. Ketika ditanya apa alasan yang membuatnya harus mengundurkan diri. Begini jawabnya.
"Ya, Meskipun secara gaji memuaskan, tapi di sisi lain saya harus bertaruh waktu dengan pekerjaannya." Begitu pungkasnya.
Jam istirahat yang diberikan oleh pihak perusahan untuk sekedar makan, shalat dan rehat begitu singkat. Sehingga tak jarang ia kehabisan waktu. Jika i a dahulukan Shalat maka ia harus rela tidak makan, atau bahkan sebaliknya jika yang ia dahulukan adalah makan, maka dengan sangat menyesal ia harus meninggalkan Shalat.
Begitulah suka dukanya seorang Abdul saat itu, sehingga ia putuskan untuk keluar.
Kembali pada kisah Abdul saat ini. Yang membuat penulis heran sekaligus kagum, ternyata Abdul mengerjakan dan mengurus usahanya seorangdiri, tanpa karyawan ataupun jasa orang lain.
Jadi, aktivitasnya setiap hari selain Kuliah adalah, mengurusi 1200 ekor ayam putih di rumahnya. Bisa kita bayangkan bagaimana repotnya dia. Mesti ekstra memanage waktu dengan baik. Antara kuliah, mengurus usaha dan juga kegiatan di luar kuliah, karena disamping itu ia pun aktif di KOPI (KomunitasPenulis IAIC) dan PMII (PergerakanMahasiswa Islam Indonesia).
Tiada gading yang tak retak, untuk sampai pada kondisi saat ini, tentu sebelumnya ia pun pernah merasakan kerugian yang cukup besar. Ia mengaku pernah mengalami kerugian selama 2 periode (Periode pertama dan kedua), pasalnya ketika itu ia belum menguasai bagaimana tehnik berternak yang baik dan benar.
Menyoal pada ide pertama berternak, katanya ia mendapat inspirasi dari menonton TV acara Klik Andy, yang saat itu menghadirkan Nara Sumber seorang peternak sukses.
Pun ia mengaku terdorong oleh ungkapan Bob Sadino yang menyatakan: "Setingginya jabatanmu, kamu tetap seorang karyawan, dan sekecil-kecilnya perusahaanmu, kamu bosnya"
Oleh karena itulah, Abdul Khoiruma memilih untuk jadi wirausahawan.

Sejarah Berdirinya STTC ( Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung ) KH. Abdul Khobir MT

Tidak ada komentar:
  Drs. K.H. Abdul Khobir, MT 
   (Pendiri STTC & Pembina Asrama Putra Esa Al-jabar Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat)
        
Dra.Hj. N. Ida Nurhalida. M.Pd

Cerita ini mudah-mudahan lebih melengkapi beranekaragamnya alumni ITB angkatan 77. Saya dibesarkan dilingkungan pesantren tarekat di sebuah kampung kecil di Tulungagung, Jawa Timur. Ayah saya adalah seorang guru tarekat (mursyid). Seperti kebanyakan yang
terjadi dengan anak dari seorang mursyid, masa SD sampai SMA saya dihabiskan dengan pendidikan ke-pesantren-an dengan harapan nantinya saya akan meneruskan pesantren yang telah dirintis oleh ayah, kakek, dan buyut saya. Dengan alasan yang sama, setelah saya lulus dari SMPPN Tulungagung (sekarang SMA 1 Tulungagung), saya dititipkan di
Pesantren Al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta.
[Chobir kecil sesaat setelah menerima penghargaan sebagai juara MTQ anak-anak
di Mesjid Agung Tulungagung (1970)]
“Terdampar” di Bandung dan kuliah di ITB
Namun kemudian, di Krapyak saya malah mengikuti test ujian masuk perguruan tinggi SKALU yang bertempat di Jurusan Biologi UGM. Ternyata saya diterima di FMIPA ITB angkatan 1977. akhirnya sayapun berkuliah di ITB.
[Sesaat setelah OSPEK, Berpose dengan teman-teman asal Tulungagung (Joko, Eko, Agus, Didik, Chobir)]
[Ketika ikut OSPEK (1977)]
Di Bandung saya banyak beraktivitas di Salman karena pesan orangtua saya supaya tidak jauh-jauh dari mesjid. Kegiatan utama saya sebagai tukang adzan (muadzin), guru ngaji, sesekali jadi imam mesjid. Beberapa dari aktivitas saya selama di kampus adalah ikut unit Pers Kampus, mengurus Toko Buku Ganesha Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa Bandung, juga mengikuti kegiatan di Yayasan Swadaya Muda, yang bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan teknologi tepat guna dan pelayanan sosial.
Mendapat Penghargaan Kalpataru & “kecantol” putri Kyai
Teman-teman di Swadaya Muda banyak merintis kegiatan teknologi tepat guna melalui pesantren, karena dianggap pesantren merupakan lembaga yang masih mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat pedesaan, dengan harapan teknologi tepat guna itu bisa disebarluaskan melalui
pesantren-pesantren tadi. Contohnya dengan membuat MCK dengan bambusemen (menggunakan bambu sebagai kerangka beton), penjernihan air dan lain-lain. Bahkan salah satu kegiatan penjernihan air yang dibuat di Cipasung mendapat hadiah Kalpataru 1980.
[Bersama teman-teman 77 yang ikut LMD di Salman]
Sekitar tahun 1982 saya malah lebih sering bolak-balik Bandung-Tasikmalaya bergantian dengan teman-teman, diantaranya : Hartoko (SI 77), Triyono (FI 77), Andi Eka (FI 77), Saul (FT 77), Ali Fikri (TI 77) dan lain-lain untuk memberikan bimbingan belajar kepada siswa-siswi kelas III SMA Islam Cipasung. Lha kok saya malah akhirnya kecantol sama putrinya pak Kyai (KH.Moh Ilyas Ruhiat).
Jadi Mantu Ajengan
Dua hari menjelang wisuda, Kamis 24 Maret 1983, jam 19.00, di malam jum’at yang sakral itu saya memasuki gerbang rumah tangga, dalam sebuah acara akad nikah yang sederhana dengan diantar keluarga, teman-teman Salman dan teman-teman seangkatan – yang waktu di kampus suka ngobrol-ngobrol/diskusi masalah-masalah sosial keagamaan dengan menamakan diri “Mabrur 77”. Diantara yang hadir dan menyaksikan acara akad nikah kami adalah : Indratmo (SI 77), Cahyono (SI 77), Saiful Halim (SI 77), Hartoko (SI 77), Suprayudi (SI 77), Gatot Trilaksono (TK 77), Wafroni (SI 77), Ahsin (MS 77), Syahril (SI 77), Idwan (SI 77), Eddy Sugiarto (GL 77), Wahdan Darwani (TL 77), Ali Fikri (TI 77), Leonarda (SI 77), Agus Trisantosa (EL 77), Agus Supangat (GM 77) (.Maaf ya bagi yang nggak kesebut namanya, maklum sudah mau jadi kakek).
Jadi sebelum di wisuda tanggal 26 maret 1983, saya sudah punya gelar MA (mantu ajengan). Berikut ini foto-foto pernikahan seorang Mahasiswa ITB dengan putri seorang Kyai pesantren:
[Akad nikah, dihadiri oleh teman-teman 77]
Sambil menemani isteri kuliah di IKIP Bandung, yang baru semester 2, saya ikut membantu kegiatan di Lembaga Pendidikan Islam Salman, mengajar di Unisba, Uninus dan Unla. Selain bolak-balik Cipasung – Bandung, saya mulai ikut kegiatan-kegiatan di pesantren, disamping sering diajak mendampingi pak Kyai untuk ikut menghadiri acara-acara Nadhatul Ulama (NU). Dari tahun 1983 sampai dengan 1987 kegiatan-kegiatan itu saya jalani, dan diantaranya saya mulai banyak bergaul, bertemu dalam forum-forum dengan kalangan pesantren, dan NU.
Membuka Fakultas Ushuluddin
Pada tahun pertama saya di Cipasung, yaitu tahun 1987, saya dan teman-teman di Cipasung merintis dibukanya fakultas baru, yaitu Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah, untuk melengkapi dua fakultas yang sudah ada yaitu Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Cipasung. Saya mendapat tugas sebagai Pembantu Dekan I dan mengajar mata kuliah Filsafat serta Metodologi Penelitian. Saat ini Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah sudah berubah menjadi Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.
Tahun 1984 saya juga ikut merintis dibukanya Fakultas Syari’ah, walau waktu itu saya masih lebih banyak di Bandung. Akhir tahun 1987 sampai sekarang, saya juga ikut mengajar di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsil
[Kampus Institut Agama Islam Cipasung]
Mempersiapkan Muktamar NU ke-29 di Cipasung
Hajat terbesar warga NU itu dilaksanakan di Pondok Pesantren Cipasung 1 – 5 Desember 1994, tentu saja bagi saya merupakan pengalaman yang sangat menarik. Persiapan untuk menyongsong hajat akbar itu membutuhkan energi yang besar, karena fasilitas penginapan, MCK, dan lain-lain yang harus menampung peserta resmi kurang lebih 3500 orang belumlah memadai, apalagi bila ditambah dengan pengamat, peninjau dan penggembira.
Alhamdulillah seluruh warga masyarakat pada saat itu bahu membahu dengan pemerintah daerah kabupaten Tasikmalaya dan propinsi Jawa Barat berusaha maksimal untuk menyukseskan acara tersebut. Rumah-rumah pendudukpun dipakai penginapan oleh para penggembira, termasuk beberapa disewa oleh stasiun-stasiun TV nasional. Karena akses jalan masuk ke pesantren pada saat itu sangat tidak memadai, maka pemerintah propinsi Jawa Barat membuat jalan baru yang layak, dan saat ini jalan itu diberi nama Jalan Muktamar NU ke 29. Lahan parkir yang luas juga dipersiapkan, sekaligus juga bisa dimanfaatkan untuk pendaratan pesawat-pesawat ukuran sedang.
Menjadi saksi muktamar Cipasung yang bersejarah
Aula juga dibangun untuk keperluan sidang pleno, yang kemudian menjadi saksi sejarah bagaimana perlawanan Gus Dur terhadap rezim pada saat itu, ketika beliau terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah. Yang paling membahagiakan saya adalah saat hari H saya bisa menatap wajah ulama-ulama seluruh Indonesia di rumah pak Kyai, karena memang tugas saya adalah menerima beliau-beliau. Yang juga sangat unik adalah bagaimana pada waktu itu Ibu Megawati ditemani Eros Jarot diledekin Mbah Lim, Kyai kharismatik dari Klaten yang “nyentrik” dan “nyleneh”.
Tentu cerita-cerita keunikan para kyai ini amat banyak bila harus diceritakan. Untuk melayani makan sehari-hari, jajaran TNI bersama ibu-ibu Muslimat siang malam menyiapkan masakan dengan penuh canda dan tawa. Alat-alat masak ukuran besar semua disiapkan oleh pihak TNI. Bahan baku berasal dari sumbangan masyarakat, seperti : sapi, kambing, ayam, telor, kelapa, pisang, sayur- mayur dan lain-lain. Pada saat muktamar itu, pak kyai (KH. Moh. Ilyas Ruhiat) terpilih sebagai Rais Aam dengan Wakil Rais Aam KH. M. A. Sahal Mahfudz dan Gus Dur sebagai ketua Tanfidziyah.
[Suasana Muktamar NU ke-29 di Cipasung]
Mendirikan Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung
Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, terutama untuk meyakinkan keluarga besar Cipasung, adik-kakak pak Kyai yang berjumlah 27 orang dari dua ibu, maka pada tahun akademik 1997/1998 dibukalah dua jurusan, yaitu Jurusan Teknik Industri dan Teknik Lingkungan. Dengan dibukanya dua jurusan ini, maka Institut Agama Islam Cipasung diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Cipasung
Pendirian dua jurusan ini banyak dibantu oleh teman-teman alumni ITB angkatan 1977, terutama Idwan Santosa (SI 77), karena dialah ketua yang pertama. Syahril (SI 77), Indratmo (SI 77), Cahyono (SI 77) dan yang lain juga aktif membantu, bahkan Ali Fikri (TI 77), Eddy Entum (TI 77) dan Agus Trisantosa (EL 77) tercatat sebagai dosen dalam proses pendiriannya. Terimakasih untuk rekan-rekan semua.
Memasuki usianya yang ke 10, jumlah mahasiswa STT Cipasung belumlah menggembirakan, tapi bila ditinjau dari sudut pandang sebagai sebuah perjuangan yang ingin mencitrakan agar tidak terjadi pandangan dikotomis antara ‘ilmu agama’ dan ‘ilmu umum’ mulai ada tanda-tanda yang menggembirakan. Semoga kehadiran STT Cipasung semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dan dapat memberikan kontribusi positif bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Amin. Saya berharap teman-teman alumni ITB, khususnya alumni ITB angkatan 1977 dapat ikut serta berpartisipasi dalam mengembangkan STT Cipasung pada masa-masa yang akan datang.
[Suasana Seminar UKM di STT Cipasung]
Menerapkan teknologi sebagai strategi keunggulan di Usaha Kecil – Padi hibrida & Nilam
Sebagai langkah awal pada bulan Januari 2004 STT Cipasung menyelenggarakan kegiatan seminar dengan tema : “Penerapan Teknologi Sebagai Strategi Keunggulan Bersaing Usaha Kecil Menengah” kerjasama dengan Kementerian RISTEK/BPPT yang difasilitasi oleh Andi Eka Sakya (FI 77), Lisminto (TK 77) dan teman-teman termasuk LPPM ITB melalui Syahril (SI 77).
[Budidaya Nilam & Padi Hibrida]
Tindak lanjut dari kegiatan ini diantaranya pengembangan budidaya Nilam dan proses penyulingannya di desa Padakembang. Selain itu adalah budidaya padi hibrida longping pusaka, yang alhamdulillah pada saat panen periode Desember- Januari menghasilkan produksi dua kali lipat dengan padi biasa, tetapi pada periode panen Maret – April ini hasilnya tidak menggembirakan, alias sama dengan padi biasa, bahkan beberapa diantaranya diserang hama tikus. Kelihatannya masih panjang jalan yang harus dilalui untuk mendampingi dan memfasilitasi para petani. Kegiatan-kegiatan pemberdayaan kelompok tani ini diwadahi oleh Koperasi Kelompok Masyarakat Keluarga Besar Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung disingkat KKB-STT Cipasung.
[Kampus STT Cipasung]
Alhamdulillah pada tahun 2007 ini STT Cipasung dapat membangun 2/3 gedung lantai dasar atas bantuan dari Dirjen Dikti, semoga denga adanya bangunan ini kiprah pengabdian STT Cipasung semakin membaik.
Kerjasama seluruh Pesantren dengan institusi-institusi Dunia – Pengembangan perpustakaan
Pada bulan Juli 2004 kerjasama dengan Perpustakaan ITB melalui LPPM ITB difasilitasi Syahril (SI 77), dengan Forum Pesantren, INSIST Yogyakarta, Institut for Training and Development (ITD) Amherst, USA menyelenggarakan ‘Workshop Pengembangan Perpustakaan Pesantren’ dengan harapan agar pesantren-pesantren dapat menata dan mengembangkan perpustakaannya dalam rangka menjaga warisan tradisi intelektual pesantren dan upaya pengembangannya. Kegiatan ini diikuti 50 pesantren dari seluruh Indonesia.
[Suasana Workshop Perpustakaan]
Pada beberapa bulan terakhir ini STT Cipasung sedang intensif mendiskusikan desain kurikulum dengan berbagai pihak, yang muatannya mengarah pada penguatan UKM, diantaranya diskusi-
diskusi itu secara rutin dilakukan dengan Universitas Kristen Maranatha, karena UK Maranatha punya pengalaman banyak dalam pengembangan ekonomi mikro.
Keluargaku
Sejak isteri saya selesai kuliah di tahun 1987, saya mulai tinggal di Cipasung. Isteri tercinta N Ida Nurhalida, lahir di Tasikmalaya 14 Juni 1964, saat ini mengemban amanah sebagai Kepala Madrasah Aliyah Negeri Cipasung. Kami menerima titipan Allah SWT, 4 putra dan putri.
Pertama, Mohammad Sabar Jamil, lahir di Cipasung, Tasikmalaya, 12 Juli 1984. Saat ini dia sedang kuliah S-1 di Jurusan Ilmu Komputer, Extension FMIPA Unpad, setelah menyelesaikan program D-3 Instrumentasi dan Teknologi Komputer, Jurusan Fisika IPB, alhamdulillah cumlaude. Kedua, Ahmad Zamakhsyari Sidiq, lahir di Cipasung, Tasikmalaya, 8 Desember 1986. Saat ini kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITB semester 6, kelihatannya seneng juga aktif di kegiatan KM ITB, seperti pamannya Acep Zamzam Noor.
Puteri saya yang nomor tiga Ajeng Sabarini Muslimah, lahir di Tasikmalaya, 29 Mei 1990, sekarang sekolah di Madrasah Aliyah Negeri Cipasung, kelas 2. Sedangkan putri yang keempat Hauna Taslima, lahir di Tasikmalaya, 6 Juli 1996, sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Cipasung kelas 5
Penutup & permohonan
Kelihatannya saya memang tidak bisa dipisahkan dengan pesantren, dan semoga jalan ini merupakan jalan terbaik yang dikaruniakan Allah kepada saya. Amin. Semoga pengalaman saya selama di ITB, terutama interaksi saya dengan teman-teman alumni ITB angkatan 1977 akan memberikan manfaat bagi pesantren. Saya sangat berharap masukan dari seluruh alumni ITB, terutama teman-teman ITB angkatan 1977 untuk meningkatkan peran pondok pesantren dalam pengabdiannya kepada masyarakat. Apalagi saat ini saya mendapat amanah untuk mengurus Asosiasi Pondok Pesantren (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) Propinsi Jawa Barat.
Tentang penulis (redaksi)
Abdul chobir adalah alumni jurusan Fisika. Ia saat ini menjabat sebagai Pimpinan Sekolah Tinggi Teknik Cipasung. Ia tinggal bersama keluarganya di lingkungan Pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Sumber : https://mumu74.wordpress.com/2012/07/02/kisah-pendiri-sekolah-tinggi-teknologi-di-pesantren-cipasung/

KH MUHAMMAD ILYAS RUHIAT

Tidak ada komentar:

Dalam khazanah budaya Sunda, dikenal adanya tiga pembagian kekuasaan yang setara dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Ketiga lembaga kekuasaan itu menyatu dan saling mendukung. Kekuasaan yang dihormati adalah kekuasaan rohaniah yang disebut resi. Kekuasaan kedua disebut ratu, yakni pihak eksekutif yang memerintah ketiga kampung kekuasaan. Dalam bahasa yang lebih primordinal disebut negara. Dan alamat ketiga adalah rama yang tak lain adalah rakyat, yang lembaganya mengurusi keamanan dan pertahanan ketiga kesatuan tripartit kampung. Dengan demikian, ketiga lembaga memiliki pucuk pimpinan atau jawaranya sendiri-sendiri, yakni jawara rohaniah, jawara eksekutif, dan jawara silat.
Sosok kharismatik ajengan Cipasung Tasimalaya yang dibedah biografinya dalam buku ini tak lain adalah sosok resi yang telah mensenyawakan dirinya dan mentalitas spiritualitas Islam secara natural dengan mentalitas budaya Sundanya di Cipasung. Dia bernama KH Moh Iyas Ruhiat. Dilahirkjan hari Ahad, 12 Rabiul Awwal 1352 H/31 Januari 1934. Namanya sebagai tafa’ul terhadap tokoh muda pesantren yang tengah naik daun saat itu, KH Muhammad Ilyas, yang pernah menjabat Menteri Agama dalam tiga periode (h. 37). Sejak kecil sampai dewasa, Endang Ilyas (anak kiai diseputar Tasikmalaya lazim dipanggil Endang), dididk oleh orang tuanya sendiri. Ajengan Ruhiat, bapak Endang Ilyas, adalah perintis pesantren Cipasung. Ajengan Ruhiat termasuk pelopor masyarakat Tasimalaya dalam menghadang imperialisme penjajahan Belanda, sehingga pada 17 November 1941 beliau ditangkap dan ditahan bersama ulama terkemuka, KH Zainal Musthofa di Penjara Sukamiskin dan dibebaskan 10 Januari 1942 (h. 29). Kegigihan sang ayah, sekaligus guru yang paling disegani Endang Ilyas, inilah yang menjadi spirit Ilyas untuk terus belajar secara tekun dan selalu bersikap tegar yang nantinya mampu menjadi modal memperjuangkan masyarakat Cipasung.
Kecerdasan dan ketegarannya membuat orang tuanya bangga, sehingga ketika sang Ayah merasa sakitnya parah, Endang Ilyas langsung dibai’at oleh ayahanda sebagai penerus kepemimpinan pesantren Cipasung. Ditangan Moh Ilyas, Cipasung sejak tahun 1980-an sampai sekarang menjadi pesantren besar yang penuh prestasi. Terlebih ketika Ajengan Ilyas terpilih sebagai pelaksana harian Rais Aam PBNU yang ditinggalkan KH Ahmad Siddiq dalam Munas Lampung tahun 1992. Dan kemudian beliau terpilih kembali sebagai Rais Aam PBNU dalam Muktamar XXIX tahun 1994 di pesantrennya sendiri, Cipasung. Kesuksesan Ajengan Ilyas menjadi Rais Aam PBNU membuktikan akan teguhnya beliau sebagai seorang resi. Dan beliau sampai saat ini, adalah satu-satunya orang Sunda yang pernah menduduki posisi Rais Aam. Karena dalam kepemimpinan NU, jabatan Rais Aam selalu diisi orang Jawa. Dan perlu dicatat, Rais Aam bukanlah sekedar jabatan. Yang terpilih (bukan dipilih) adalah mereka yang kharismatik dan benar-benar menjadi panutan ummat. Sebut saja mislanya KH Hasyim Asy’ari, KH A. Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Sansuri.
Sosok resi yang melekat dalam diri Ajengan Ilyas sangat dirasakan oleh seluruh warga NU dan pesantren. Beliaulah yang menjadi siger tengah (tokoh moderat) dalam konflik elite NU di Munas Lampung 1992. Waktu itu, Gus Dur berseteru dengan pamannya sendiri, KH Yusuf Hasyim, dan KH Ali Yafie. Pada Muktamar Cipasung tahun 1994, ketika Gus Dur dan Abu Hasan berseteru, bahkan karena tidak terpilih, Abu Hasan akhirnya mendirikan NU tandingan bernama KPPNU, Ajengan Ilyas tampil lagi sebagai siger tengah yang mengembalikan keutuhan jam’iyyah dan jama’ah NU. Ketika warga NU digegerkan oleh Naga Hijau dan Ninja yang membantai warga Banyuwangi, beliau bersama Gus Dur tampil dengan santun menyelesaikan konflik tersebut dengan damai. Dan ketika warga NU sedang bergairah era reformasi, beliau juga merestui lahirnya PKB yang kemudian mengantarkan Gus Dur sebagai Presiden ke-4 RI. Sampai sekarang, walaupun kondisi fisik beliau sudah sangat lemah, ketika warga NU diterpa godaan politik yang menggoyahkan Khittah 1926, beliau tetap bersungguh-sungguh mempertahankan Khittah yang diwariskan para sesepuh NU.
Totalitas perjuangan Ajengan Ilyas dalam NU sangatlah besar dan dikagumi warga NU. Tidak hanya warga NU, tetapi seluruh bangsa. Karena di Jawa Barat beliau juga sering memelopori dialog lintas agama dan linta sektoral. Beliau selalu menggandeng Muhammadiyah dalam persoalan umat Islam. Dalam pluralitas keberagamaan, beliau selalu menggendeng para pemuka agama Indonesia, termasuk ikut masuk dan berceramah di pesantrennya. Walaupun demikian, beliau tetap santun dan rendah diri. Menduduki posisi tertinggi di NU, beliau tetap tinggal di Cipasung. Karena baginya, Ilyas dan Cipasung bagai biji yang tumbuh ditanahnya sendiri.
 
Sumber :  http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,12-id,8077-lang,id-c,buku-t,Ajengan+Cipasung++Biografi+KH+Moh+Ilyas+Ruhiat-.phpx
 
 
back to top